Bulan Mei Dalam 12 Tahun Catatan Saya
Ada begitu banyak kejadian penting dalam catatan perjalanan saya selama 12 tahun terakhir. Beberapa diantaranya terjadi di bulan Mei. Peristiwa terbesar tentu saja terjadi pada 1998, momen antiklimaks sebuah rezim berusia 3 dasawarsa. Sebuah momen dimana hampir setiap individu berbangsa Indonesia diharuskan ikut memikirkan kembali arah bangsa dan mengevaluasi sejarah yang telah sekian lama berjalan.
Tulisan ini awalnya ingin saya dedikasikan untuk menuliskan sebuah upaya rethinking kebangsaan, tapi mengingat saya sedang agak ’sentimentil’ maka saya cantumkan terlebih dulu beberapa hal lain yang bersifat lebih personal. Tema reformasi dan kebangsaannya kapan-kapan saja.
Biarpun banyak detail yang terlupa, tapi secara garis besar masih memadai sebagai fakta kok. Please, allow me
Mei 1996
Bulan deg-degan menjelang Ebtanas SMA dan UMPTN. Sebuah pertaruhan kredibilitas, bukan saja di depan orang tua saya yang sekian lama memberi kepercayaan, tapi juga di depan guru-guru SMA yang selalu geleng-geleng kepala melihat tingkah polah saya dan kawan-kawan. Bayangkan, selama kelas 2 SMA saya dan (sebagian besar) kawan-kawan bisa dikatakan hampir tidak pernah menjamah ruang kelas.
Selama kelas 2, jadwal pribadi saya masuk ke wilayah sekolah (SMA 3 Yogyakarta alias 3B alias Padmanaba) tiap harinya adalah jam 8 (paling cepat). Kalau hari Senin malah bisa lebih siang, karena menghindari Upacara Bendera. Sampai di sekolah, masuk ke kelas buat naruh tas, terus pergi lagi melakukan aktivitas ‘kesiswaan’. Oh ya, sebelum keluar lagi biasanya saya sempatkan menyapa sang sekretaris kelas yang aduhai ( kata Wahyu, lho) buat sekedar ngomong “Deb, hadir”.
Begitulah, sejauh pengetahuan saya waktu itu peraturan absensi di SMA saya mengatakan “asalkan dalam salah satu dari 2 kali absensi dalam hari bersangkutan hadir, maka dianggap hadir pada hari itu”. Well, of course, jika ga ada guru yang iseng mencari-cari.
Itulah sebab mengapa saya menyebut SMA 3 Yogya sebagai SMA Pembebasan. Sebagai siswa, saya (dan kawan-kawan, karena hampir 70% dari siswa adalah para pembolos yang rajin) semacam diberi kebebasan sekaligus kepercayaan. Silahkan saja bolos, asal ujian bisa mengerjakan. That’s it.
Itu peraturan tak tertulis, dibawah tangan, hanya bisa dibuktikan kalau anda pernah melihat rapor kelas 2 milik saya dan para pembolos itu. Umumnya dalam rapor kita tertulis demikian; Ijin: 5 hari, Sakit; 2 hari (padahal seharusnya; Masuk:5 hari, Sakit: tidak pernah). Ditambah lagi dengan nilai PMP (Pendidikan Moral Pancasila..heheh) umumnya: 7 bahkan ada yang pernah mencapai rekor mendapat nilai 9.
Saya sendiri belum pernah mendapat nilai PMP lebih dari 7, mungkin karena pernah kepergok oleh sang guru PMP saat saya sedang melompat keluar kelas (hari naas..rarely happen kok). Tapi itu cukup bisa ditutupi dengan nilai Agama saya yang: 9. Bisa dikatakan meskipun kurang Pancasilais saya cukup Agamis
Shortly speaking, citra saya di mata guru-guru agak mengkhawatirkan. Bahkan saya yakin banyak guru saya pada waktu itu yang bertaruh kalau saya tidak mungkin lulus UMPTN. I know they were sorry for it.
Mei 1997
Saya masih berstatus sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi UGM, banyak ujian saat itu meski bukan ujian semester. Maklumlah pola ujian di FKG berbeda dengan fakultas-fakultas lain. Bahkan sekedar untuk bisa mengikuti praktikum saja kita harus lulus test (pre-test).
Bagi anda yang tidak menjalaninya, barangkali terkesan biasa saja, tapi bagi yang menjalani..fiuh..percaya deh tiap minggu selalu ada mahasiswi yang menangis di depan pintu lab…ada yang menangis karena gagal dan herannya ada juga yang menangis karena berhasil. You can imagine how hard it was for us.
Kalau mahasiswi menangis sebagai ungkapan ekspresi, maka yang mahasiswa biasanya mengungkapkan ekspresi dengan tampang cemberut, ngeloyor pergi, misuh-misuh atau ambil motor dan menggeber-geber dijalanan dengan kecepatan tinggi. Maklumlah diangkatan saya waktu itu banyak yang berstatus sebagai mantan ‘petinju jalanan’ di SMA.
Bagaimana dengan saya sendiri? Kenapa bulan Mei 1997 menjadi ‘bersejarah’ buat saya adalah karena pada waktu itu saya mengambil sebuah keputusan penting untuk hengkang dari FKG UGM dan mencoba UMPTN lagi. Sebuah keputusan yang berat, karena pada saat itu saya sebetulnya sudah merasa comfort di FKG (nilai-nilai bagus, teman-teman cocok, dan ada seseorang yang begitu memikat ..he).
Mei 1998
Reformasi 1998. Diobrolin lain kali
Mei 1999
Pertama kali saya hadir dalam pertemuan ISMKI (Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia) yaitu Temu Ilmiah Wilayah III ISMKI di Solo. Tergolong masih cupu, tapi secara mengejutkan diusulkan oleh BEM FK UNS (saya lupa nama Presiden BEMnya, lha wong saya masih cupu) untuk maju sebagai SekJend (istilah untuk posisi tertinggi) ISMKI sebagai calon dari Wilayah III (mencakup Jateng-DIY). Usulan ini saya tolak mentah-mentah…..eh..enggak ding…ditolak mentah-mentah oleh Presiden BEM FK Undip (kampus saya sendiri) yang notabene lebih senior dari saya
Bukan ‘perihal diusulkan’ itu yang membuat bulan Mei ini menjadi berkesan, tapi ‘akibat’ dari usulan itu. Kejadian itu membawa sebuah kesadaran baru bagi saya bahwa FK Undip harus bisa mengambil peran lebih. No, it was not just a matter of the position, it was more about a way to make a change.
ISMKI pada saat itu mengalami stagnasi dan keterjebakan pada pragmatisme (individual). Lebih parahnya, ISMKI terjebak pada isu-isu fragmentatif ‘Swasta-Negeri’. Hal-hal yang menurut saya tidak relevan dan tidak visioner. Sementara Indonesia sedang berubah, sistem pendidikan sedang dikritisi dan AFTA menjelang, ISMKI sebagai organisasi yang seharusnya memperjuangkan kepentingan Mahasiswa FK Indonesia (yang notabene adalah konstituennya) justru terjebak melakukan self-fragmentation.
Mei 2000
Pertama kali saya bertemu empat mata dengan idola masa kecil saya, Hariman Siregar. Entah kenapa saya mengidolakannya waktu kecil. Mungkin karena namanya dikaitkan dengan peristiwa nasional penting yang terjadi pada saat saya lahir. Kebetulan dia juga pendiri ISMKI (dulunya bernama IMKI, Ikatan Mahasiswa Kedokteran Indonesia)
Mei 2001- 2003
ga bisa dibahas disini
Mei 2004
Seorang teman dekat, yang sebelumnya menjadi Sekretaris (administratif) Hartono Mardjono alias Pak Ton di PII (Partai Islam Indonesia, yang berakhir dengan tidak lolos verifikasi KPU), sedang sekarat karena gagal ginjal kronik. Akhirnya dia meninggal dalam sebuah upaya mencari solusi di Jakarta.
Ada banyak perasaan bersalah disini karena saya pada saat itu sudah tak mampu lagi melakukan apapun untuk membantunya terutama dari segi biaya. Setelah selama beberapa bulan sebelumnya saya dan beberapa teman yang lain (terutama ferry) berusaha mati-matian menghimpun dana .
Kebutuhan dana waktu itu luar biasa, terutama bila mengingat status kita yang masih mahasiswa, dengan keharusan baginya untuk melakukan cuci darah (haemodialisa/HD) seminggu 2 kali. Satu kali HD membutuhkan biaya kurang lebih rp.800.000, belum termasuk biaya ruangan. Ini standar biaya di RSDK (Rumah Sakit Dr. Kariadi, tempat saya ko-ass), waktu itu merupakan the cheapest around.
Bagi kita waktu itu, demi seorang sahabat, berhutang pun tidak masalah. Persoalannya, bahkan berhutang untuk keperluan ini pun sulit sekali waktu itu. Gosh, sejujurnya dalam hati waktu itu saya memaki-maki dan menyumpah-nyumpahi sekian banyak orang yang saya anggap mampu membantu tapi tidak mau. God Damn Them.
Saya tahu, sumpah-serapah saya barangkali salah dan seharusnya tidak perlu saya lakukan. but I was so frustrating. He was one of my best friend, I knew what happening was (for I’m a medical student), I knew what we should do and what he should had been having, but we just couldn’t do anything.
Wish God forgive me for any mistake I did that time (I don’t even know which one was really my mistake).
ah..my Friend name is Tri Driyono alias Pak De, fotonya saat wisuda masih kupajang di friendsterku. He was a good man. He was a reporter in a local newspaper before he decided to move to Jakarta to meet and work for Pak Ton (heck, I was the one who gave him this offer. Really, I wish I never did it)
Mei 2005
I suggested her to take the Study at UGM Jogja, instead of at UNDIP, for I knew that was what she desired most. Many have been thinking wrongly about it (what my real reason was).
Mei 2006
Gempa di Jogja. It was harder than everyone ever thought about how its impact to my life.
Mei 2007-2008.
Sebuah pencerahan, titik terang di ujung jalan.
Thanks to Him for… bagian ini diedit karena menimbulkan salah sangka dan kontroversi
AGP said,
May 12, 2008 at 3:33 am
ya..ya..ya…
bagus..bagus…
ntar bulan2 yang laen jugak ya, oom…
mita said,
May 13, 2008 at 12:05 am
maybe i am old-school, but if i try to look back to high school days, aku ngeri liat jaman sma dulu itu. i wish we had better system
ganes said,
May 13, 2008 at 3:28 am
kok ngeri kenapa mit? mudah2an bukan karena aku ya
iwan said,
May 14, 2008 at 9:07 am
bang bung dokter sekarang udah mulai nulis nih…..good…good…good….
mas pram said,
May 21, 2008 at 12:59 pm
mei 2000 ud ktmu hariman, lha aku br siap2 ebtanas je,,3 thn kemudian br bs ktmu hariman hehe,,itu jg krn bos qta ini yg sondingkan klo ga, mgkn blm bs jg ktmu hariman..
wandy said,
June 3, 2008 at 6:34 am
gw jd sedih kl baca cerita P de….btw pencerahan macem apa yg kau dapet? shariing lahhh…
ganes said,
June 3, 2008 at 7:08 am
yang cerah masih diujung jalan, ini belon nyampe. jadi ya akan di sharing bilamana sudah nyampe
wandy said,
June 4, 2008 at 4:06 am
emang bulai mei jadi favorit buat banyak orang, terutama buat para bujangan dan pajangan yang usianya semakin temaram (hehehe) sebab kalo ditanya orang “kapan kau nikah?” mereka akan jawab dengn mantab: bulan MEI, maybe yes maybe NOT….begitulahh
ganes said,
June 4, 2008 at 5:41 am
atau menjawab: MEIns sana in corpore sano… hehe ga ada hubungannya kan?